Monday , 11 May 2026
Home / ENERGI MINYAK & GAS / Harga Energi Dunia Melonjak, BBM, LPG dan LNG Mengalami Tren Kenaikan

Harga Energi Dunia Melonjak, BBM, LPG dan LNG Mengalami Tren Kenaikan

JAKARTA, RESOURCESASIA – Dinamika geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa isu energi kini tidak lagi sekadar persoalan komoditas, tetapi telah menjadi bagian dari stabilitas ekonomi dan keamanan nasional suatu negara.

Konflik geopolitik, gangguan supply chain dan jalur distribusi energi, hingga meningkatnya kebutuhan energi di kawasan Asia telah menciptakan tekanan besar terhadap pasar energi global yang mendorong tren kenaikan harga BBM, LPG, hingga LNG di berbagai negara.

”Iya energi ini kan kebutuhan. Kalau tidak ada energi maka tidak ada kehidupan. Saat ada krisis maka paling utama diselamatkan ada dua; pertama kebutuhan pangan dan kedua energi. Jadi kalau ada ketegangan politik, dua hal itu diamankan,” ungkap Direktur Eksekutif Rofirminer Institute, Komaidi Notonegoro, kepada wartawan ditulis Senin(11/5/2026).

Maka wajar jika di tengah geopolitik, harga energi global langsung melonjak. Komaidi mengatakan bahwa kenaikan harga energi akibat geopolitik saat ini bersifat non-fundamental. Situasi semakin sulit ketika jalur distribusi global terganggu akibat penutupan Selat Hormuz.

”Ini yang menjadi perhatian pengguna dan konsumen sehingga harga minyak menjadi tinggi dari seharusnya.”kata dia.

Ketika harga minyak dunia melonjak, otomatis harga energi lain termasuk produk gas seperti LPG dan LNG ikut mengalami kenaikan. ”Harga LPG dan LNG di indeks-kan ke harga minyak mentah jadi dia pasti ikut naik,” ujarnya.

Di Indonesia penyesuaian harga LPG industri non subsidi 50 kg telah mengalami penyesuaian mengikuti kenaikan harga LPG global berbasis CP Aramco. Harga LPG industri tercatat meningkat sekitar 25–26 persen, dari sekitar USD 21,9 per MMBtu menjadi sekitar USD 28,3 per MMBtu. Dalam rupiah, harga tabung LPG 50 kg naik dari sekitar Rp850 ribu menjadi sekitar Rp1,068 juta per tabung pada Mei 2026.
Begitu juga untuk BBM non-subsidi di dalam negeri. Indonesia telah memulai proses adaptasi tersebut melalui mekanisme penyesuaian harga BBM non subsidi pada Mei 2026 yang mengikuti dinamika pasar dan biaya energi global. Terutama pada solar industri non subsidi yang mengalami kenaikan signifikan sekitar 77–84 persen, dari sekitar USD 22,7 per MMBtu menjadi sekitar USD 43 per MMBtu pada Mei 2026. Dalam rupiah, harga solar industri meningkat dari kisaran Rp14.200–14.500 per liter menjadi sekitar Rp26.000–27.900 per liter.

Merujuk data sejumlah lembaga energi internasional, harga energi regional diperkirakan dapat meningkat signifikan apabila terjadi gangguan distribusi atau eskalasi konflik global. Kondisi tersebut membuat banyak negara mulai memperkuat strategi ketahanan energinya melalui diversifikasi sumber energi, penguatan infrastruktur, serta penyesuaian kebijakan energi domestik.

”Faktor non-fundamental ini sulit diprediksi akan sampai kapan dan berakhirnya seperti apa,” imbuhnya.
Maka, lanjut Komaidi, penyesuaian harga memang perlu dilakukan dan mayoritas negara telah merealisasikannya di negara masing-masing. Bukan hanya BBM dan LPG, tetapi juga LNG. Apalagi, sepanjang 2026, pasar energi Asia diperkirakan masih menghadapi volatilitas tinggi.

Fenomena itu tidak hanya terjadi di negara maju. Negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Filipina, dan Singapura juga mulai melakukan penyesuaian strategi energi untuk menjaga keberlanjutan energi domestik.

Vietnam misalnya, kini semakin bergantung pada pasokan LNG dengan harga yang mengikuti pasar spot Asia. Berdasarkan data PetroVietnam dan IEEFA 2026, harga gas di Vietnam telah mencapai sekitar USD 27,81 per MMBtu.

Sementara di Filipina, harga LNG tercatat mencapai sekitar USD 28,50 per MMBtu berdasarkan data S&P Global dan Shell FGEN 2026. Adapun Singapura sebagai hub LNG regional mencatat harga yang jauh lebih tinggi. Untuk sektor bulk industri, harga gas mencapai sekitar USD 40,12 per MMBtu. Sedangkan pada sektor retail umum, harga gas Singapura mencapai sekitar USD 47,54 per MMBtu.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tren kenaikan harga energi terjadi secara luas di kawasan ASEAN, termasuk pada negara-negara berkembang yang kini semakin bergantung pada pasokan LNG dan dinamika pasar energi global.

Data pasar seperti indeks internasional Japan Korea Marker (JKM) sebagai acuan harga spot LNG Asia dan Japan Customs-Cleared Crude (JCC) yang menjadi acuan kontrak LNG jangka panjang tercatat melonjak secara bersamaan sepanjang 2026. Di JCC terjadi peningkatan sekitar 97% sementara JKM melonjak hingga sekitar 111%.

Kenaikan tersebut turut mendorong Indonesian Crude Price (ICP) yang ditetapkan pemerintah berbasis JCC dan Brent ikut meningkat secara proporsional. Pada April 2026, ICP bahkan tercatat naik sekitar 99% dibandingkan rencana awal tahun.

”Memang harga LNG akan dikaitkan dengan harga minyak mentah. Kalau harga minyak tinggi maka harga LNG juga tinggi. Dan sebelumnya pernah lebih tinggi. Ini terjadi secara global, bukan hanya di Indonesia saja,” ungkapnya.

Meskipun relatif terlambat, Komaidi mengatakan, penyesuaian harga energi terutama non subsidi seperti LNG perlu segera dilakukan di dalam negeri. Secara ekonomi, hal ini penting dilakukan supaya LNG domestik dijaga pada tingkat yang sehat dan rasional sesuai harga keekonomian energi global.

Secara umum, Komaidi menjelaskan bahwa pada satu sisi penyesuaian harga ini penting dilakukan untuk mengamankan fiskal negara. Di sisi lain, penyesuaian harga juga dilakukan mayoritas negara dengan mengacu pada indeks harga global demi keberlanjutan ekosistem energi agar tetap sehat dan mampu mendukung kebutuhan masyarakat maupun industri dalam jangka panjang. (Abdul Aziz)

Foto: Dok ist

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Peduli Kesejahteraan Karyawan, PetroChina Terima Penghargaan Perusahaan Paling Responsif

JAMBI, RESOURCESASIA.ID – PetroChina International Jabung Ltd berhasil meraih penghargaan Responsif Ability di bidang Ketenagakerjaan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *