Mempercepat investasi energi terbarukan, pasar karbon dan platform pembiayaan iklim, serta perencanaan transisi yang terarah dapat memaksimalkan manfaat ekonomi dari aset Danantara senilai US$900 miliar.
JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berpotensi memainkan peran transformatif dalam mempercepat transisi energi di Indonesia serta mendorong pencapaian target dividen Rp 800 triliun per tahun. Ini dapat dicapai dengan mengatasi kelemahan struktural dalam model pendapatan saat ini dan mengarahkan investasi menuju keberlanjutan jangka panjang.
Laporan terbaru Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menyatakan, model pendanaan Danantara berbeda dengan sebagian besar Dana Kekayaan Negara (Sovereign Wealth Fund/SWF) dunia, yang umumnya didanai melalui sumber daya, surplus fiskal, dan cadangan devisa. Pendanaan Danantara berasal dari konsolidasi dividen BUMN yang sebelumnya masuk ke kas negara, serta didukung instrumen berbasis pasar.
Tujuh BUMN termasuk PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) menjadi penyumbang dividen terbesar bagi Danantara.Namun kinerja keuangan BUMN energi tersebut sangat bergantung pada dukungan pemerintah. Subsidi dan kompensasi untuk kedua perusahaan negara tersebut mencapai Rp374 triliunatau US$23,6 miliar –lebih dari dua kali lipat kontribusi dividen yang dihasilkan tujuh BUMN utama. Tanpa dukungan fiskal ini, kedua perusahaan akan mencatatkan rugi bersih, sehingga mengurangi kapasitas mereka untuk menyumbang dividen ke Danantara.
“Pertamina dan PLN masih sangat bergantung pada batu bara serta impor minyak dan gas, sehingga rentan terhadap volatilitas harga global dan fluktuasi nilai tukar. Padahal ada jalur yang lebih stabil yakni dengan memanfaatkan energi terbarukan, sebagai sumber daya domestik tanpa biaya bahan bakar dan risiko mata uang yang lebih rendah,” Mutya Yustika, Research & Engagement Lead IEEFA mengatakan.
Mutya menilai Danantara perlu menjalankan reformasi struktural dengan mengurangi ketergantungan subsidi, peningkatan efisiensi operasional dan percepatan transisi menuju energi terbarukan. Sebab, untuk mencapai kontribusi dividen terhadap APBN sebesar Rp800 triliun per tahun seperti yang ditargetkan Presiden Prabowo Subianto, Danantara tidak bisa hanya bergantung pada subsidi yang diberikan pemerintah. Optimalisasi kinerja BUMN diperlukan agar mampu menghasilkan dividen lebih kuat dan menginvestasikan kembali modal ke proyek dengan imbal hasil lebih tinggi.
Danantara melalui dua entitas pengelola, yakni Danantara Asset Management (DAM) dan Danantara Investment Management (DIM), dapat mengoptimalkan kinerja BUMN. Kedua unit kerja ini dapat memobilisasi modal untuk proyek strategis khususnya energi terbarukan, demi menghasilkan imbal hasil di atas ambang minimum pemerintah sebesar 5%.

Investasi ke Aset Berkelanjutan
IEEFA menilai Danantara dapat memperoleh manfaat dari pendekatan SWF global yang semakin mengurangi eksposur terhadap sektor fosil dan mengalihkan model ke teknologi hijau. Danantara perlu mengadopsi diversifikasi portofolio, efisiensi operasional, dan prinsip keberlanjutan untuk mengurangi risiko finansial akibat ketergantungan pada batu bara, minyak, dan gas.
“Pengalaman SWF internasional menunjukkan bahwa penerapan keberlanjutan dalam strategi portofolio memastikan ketahanan, penciptaan nilai jangka panjang, dan keselarasan dengan tren dekarbonisasi global. Perusahaan dengan pendapatan hijau cenderung tumbuh lebih cepat, menanggung biaya modal lebih rendah, dan mencapai valuasi lebih tinggi,” Mutya melanjutkan.
Yusuf Kresna, Energy Finance Analyst IEEFA Indonesia, mencontohkan strategi SWF Singapura, Temasek yang beralih ke energi hijau telah menghasilkan imbal hasil finansial yang kuat. Portofolio energi Temasek –Sembcorp Industries– sebelumnya sangat bergantung pada gas alam. Sejak menerapkan strategi transisi energi pada 2020, harga saham Sembcorp naik sekitar 217% dari level 2021. Pertumbuhan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan investor terhadap ekspansi energi bersih dan prospek pertumbuhan regional.
“Di antara 12 investasi utama Temasek, Sembcorp Industries menjadi yang paling unggul. Berdasarkan analisis IEEFA, perusahaan ini mencatatkan 26% compound annual growth rate (CAGR) dalam kapitalisasi pasar, jauh melampaui para pesaingnya,” Yusuf mengatakan.
Investasi pada energi terbarukan, jaringan transmisi, dan rantai pasok kendaraan listrik (EV) membuka peluang tambahan untuk memperkuat model dividen Danantara. Termasuk manufaktur dan daur ulang baterai, ekspansi infrastruktur pengisian daya, serta elektrifikasi transportasi publik —khususnya bus dan armada logistik— untuk mengurangi subsidi bahan bakar sekaligus menekan emisi perkotaan.
IEEFA juga merekomendasikan agar Danantara mengambil peran katalis dalam pengembangan pasar karbon yang kredibel. Selain itu, Danantara dapat memanfaatkan mekanisme blended finance yang ada, seperti Just Energy Transition Partnership (JETP), serta memperluas penggunaan obligasi hijau.
“Dengan mencontoh Temasek, Danantara dapat mendorong perubahan internal melalui penerapan harga karbon internal di seluruh portofolio dan berkolaborasi dengan Temasek untuk mempercepat pensiun batu bara dengan memanfaatkan kredit transisi. Selain itu, Danantara dapat mengadopsi Climate Transition Readiness Framework Temasek untuk menilai kesiapan setiap perusahaan portofolio dalam menghadapi dekarbonisasi,” Mutya menambahkan.
“Jika Indonesia mampu mengarahkan ekosistem BUMN menuju profitabilitas dan ketahanan, Danantara dapat menjadi pilar stabilitas fiskal sekaligus katalis transisi energi bersih,” ujar Yusuf.
Laporan ini menyimpulkan bahwa desain kelembagaan Danantara menyediakan mekanisme untuk mengurangi ketergantungan subsidi, meningkatkan efisiensi operasional, dan mempercepat transisi menuju energi terbarukan. Inisiatif ini sejalan dengan Visi Emas Indonesia 2045 serta memperkuat upaya nasional dalam mencapai ketahanan energi dan target pertumbuhan ekonomi 8%. (RA)
Resources Asia Energi News Makers