Friday , 24 April 2026
Home / ENERGI HIJAU / PLTS 100 GW Berpeluang jadi Mesin Pendorong Industri Hijau Nasional
Pengembangan Pembangkit Listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) salah satunya yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) akan terus didorong lebih masif, hal ini merupakan upaya korporasi dalam rangka akselerasi transisi energi untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.FOTO/DOK/PLN IP

PLTS 100 GW Berpeluang jadi Mesin Pendorong Industri Hijau Nasional

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID Konflik geopolitik di Timur Tengah dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk membangun industri hijau dengan mempercepat transisi ke energi terbarukan, selain memperkuat ketahanan energi di tengah krisis energi global. Ambisi pembangunan pembangkit tenaga listrik surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) bisa menjadi strategi jitu, jika dibarengi dengan penguatan kebijakan dan tata kelola yang tepat.

Naomi Devi Larasati, Policy Strategist CERAH menyatakan, konflik di Timur Tengah mendorong beberapa negara kembali mengandalkan batu bara, sebagai sumber energi lantaran lebih aman dan murah. Namun, ekosistem batu bara kini semakin tidak menguntungkan,  lembaga pembiayaan kian menarik diri dari investasi pada komoditas tersebut dan adanya pajak tambahan untuk produk-produk yang masih ditenagai batu bara dalam prosesnya, seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) di Eropa.

Di sisi lain, Pakistan yang langsung menggenjot energi terbarukan pascakonflik Rusia-Ukraina, lebih terlindung dari gejolak politik di Timur Tengah saat ini dari aspek energi maupun industri. Indonesia seharusnya mengikuti langkah Pakistan, apalagi Presiden Prabowo telah mencanangkan pembangunan PLTS 100 GW dalam tiga tahun.

“Dengan PLTS 100 GW, Indonesia dapat membangun ketahanan energi domestik yang lebih tahan terhadap goncangan konflik geopolitik global. Tak hanya itu, skala program ini membuka peluang industri nyata, yakni manufaktur panel surya domestik, penciptaan lapangan kerja, dan transfer teknologi hijau. Tapi ini perlu ada revisi kebijakan, terutama RUPTL yang masih mencantumkan target PLTS 17 GW,” Naomi menjelaskan.

Untuk itu, Naomi menambahkan, perbaikan kebijakan perlu terjadi. Bahkan, Bank Dunia yang selama ini mendukung pasar bergerak sendiri telah menyatakan perlunya kebijakan industri dari negara. Bank Dunia juga mengungkapkan bahwa isu ketahanan dan keamanan, termasuk di sektor energi, perlu menjadi salah satu tujuan kebijakan industri. “Dalam konteks Indonesia, Program PLTS 100 GW bisa menjadi instrumen kebijakan industri hijau Indonesia yang paling konkret,” kata Naomi.

Senada, Feiral Rizky Batubara, Wakil Ketua Komite Tetap Perencanaan Energi Baru Terbarukan Kadin Indonesia juga menyoroti perlunya dukungan kebijakan dan perbaikan tata kelola dari pemerintah. Di antaranya, pemerintah perlu memperbaiki proses tender agar lebih transparan serta menyediakan insentif fiskal dan nonfiskal. Konsistensi peraturan tentang program pemerintah juga dibutuhkan untuk memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

“Untuk program ketahanan energi berkelanjutan, kita membutuhkan green fund agar semua aksi yang mendukung transisi energi dapat memperoleh kemudahan pendanaan. Mekanismenya bisa berupa green bond, tax deduction, atau penerapan carbon tax yang akan mendorong konservasi berjalan lebih efektif. Selain itu, dukungan berupa R&D dan grant juga sangat penting. Misalnya, universitas yang mengembangkan kendaraan listrik tidak akan bisa maju tanpa bantuan negara dalam riset dan pembiayaan,” Feiral menjelaskan.

Sripeni Inten Cahyani, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) 2026-2030 menambahkan, pengembangan energi terbarukan membutuhkan penciptaan permintaan listrik yang memadai. Hal ini dapat dilakukan dengan menggeser konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di sektor transportasi dan industri ke listrik. Sebagai contoh, transisi 10% kendaraan bermotor berbasis BBM ke listrik dapat mendorong pengembangan energi terbarukan cukup signifikan. Transisi ini menjadi pendorong Program PLTS 100 GW. Lainnya, investasi dari industri pusat data –yang memang mencari sumber listrik hijau, akan menciptakan permintaan listrik energi terbarukan cukup besar.

“Langkah ini tidak hanya dapat membantu mengurangi konsumsi BBM, di mana sektor transportasi dan industri yang paling besar menyerapnya, tetapi juga membantu meningkatkan energi terbarukan dan merealisasikan Program PLTS 100 GW,” Sripeni Inten menegaskan.

Lebih dari itu, transisi dari kendaraan BBM ke listrik 10% seperti yang sudah dicanangkan pemerintah, akan turut membentuk ekosistem kendaraan listrik nasional. Ambang batas 10% ini dibutuhkan sebagai early adapter, yang memberi keyakinan bagi pelaku usaha untuk tetap berkecimpung di sektor kendaraan listrik nasional, dan pada akhirnya membuat ekosistem kendaraan hijau nasional semakin berjaya. (Rama)

Foto: ist

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Sediakan Kredit Karbon, Pertamina NRE Dukung Kampanye IDXCarbon AKU NET-ZERO HERO

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim yang semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari, momentum …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *