JAKARTA, RESOURCESASIA.ID — Teknologi superkonduktor disebut berpotensi menjadi “game changer” dalam mendukung ambisi transisi energi nasional yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN 2025–2034.
Anggota Senat Akademik Institut Teknologi PLN (ITPLN), Andika Widya Pramono, menilai pemanfaatan teknologi ini dapat memperkuat modernisasi sistem kelistrikan nasional sekaligus menekan kerugian energi secara signifikan.
“Superkonduktor mampu meningkatkan kapasitas transmisi dan distribusi listrik dengan efisiensi tinggi, bahkan hampir tanpa rugi energi. Ini sangat relevan dengan arah pengembangan sistem kelistrikan PLN ke depan,” ujar Andika dalam keterangannya, Rabu, 22 April 2025.

Dalam dokumen RUPTL 2025–2034, PLN merencanakan pembangunan infrastruktur besar-besaran, meliputi jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer, gardu induk berkapasitas 107.950 MVA, serta jaringan distribusi mencapai 197.998 kilometer dengan gardu distribusi 18.407 MVA.
Selain itu, PLN juga mengembangkan teknologi smart grid, battery energy storage system (BESS), serta green enabling transmission guna mempercepat penetrasi energi baru terbarukan dalam skenario Accelerated Renewable Energy Development (ARED).
Menurut Andika, kehadiran superkonduktor dapat menjadi pelengkap penting dalam ekosistem tersebut.
“Dengan menekan rugi energi, kapasitas pembangkit yang ada bisa dimanfaatkan lebih optimal tanpa harus selalu menambah pembangkit baru,” katanya menegaskan.
Ia menambahkan, proyeksi pertumbuhan kebutuhan listrik nasional sebesar 5,3 persen per tahun menuntut sistem yang andal dan efisien. Dalam konteks ini, teknologi superkonduktor dinilai mampu menjaga stabilitas sekaligus mendukung target bauran energi bersih sebesar 34,3 persen pada 2034.
Di sisi lain, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri superkonduktor berbasis sumber daya domestik. Mineral tanah jarang seperti lantanum (La) dan yttrium (Y) yang terkandung dalam monasit menjadi modal penting bagi pengembangan teknologi tersebut.
“Penguasaan teknologi kriogenik dan superkonduktor suhu tinggi harus didorong melalui kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga riset seperti BRIN,” ungkap Andika yang juga merupakan peneliti dan praktisi superkonduktor di Badan Riset dan Inovasi Nasional serta anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE).

Namun demikian, ia menekankan pentingnya dukungan kebijakan untuk mempercepat adopsi teknologi ini, mulai dari insentif fiskal, skema carbon credit, hingga feed-in tariff.
“Tanpa dukungan kebijakan, investasi di teknologi tinggi seperti ini akan sulit berkembang,” imbuhnya.
Secara global, pemanfaatan superkonduktor telah menunjukkan hasil nyata. Di Jerman, penggunaan busbar superkonduktor modular berkapasitas 20 kA di pabrik elektrolisis BASF mampu memangkas rugi energi hingga 90 persen. Proyek serupa di industri aluminium juga terbukti meningkatkan efisiensi sekaligus menekan biaya operasional jangka panjang.
Andika menilai, pengalaman tersebut dapat menjadi referensi bagi Indonesia, terutama dalam mendukung sektor industri berat dan integrasi energi terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Program penelitian ITPLN bisa diakses melalui laman www.itpln.ac.id.
“Superkonduktor juga bisa memperkuat program dedieselisasi di wilayah terpencil, sehingga ketergantungan pada pembangkit diesel bisa ditekan,” katanya.
Dengan efisiensi distribusi yang lebih tinggi, pemanfaatan energi terbarukan dinilai akan semakin optimal, sekaligus mengurangi peran pembangkit fosil dalam sistem kelistrikan nasional. (Rama Julian Saputra)
Foto: Dok ITPLN
Resources Asia Energi News Makers