Wednesday , 22 April 2026
Home / KELISTRIKAN / Lonjakan tenaga angin dan surya memicu penurunan terbesar pembangkit listrik berbahan bakar fosil di Asia pada abad ini

Lonjakan tenaga angin dan surya memicu penurunan terbesar pembangkit listrik berbahan bakar fosil di Asia pada abad ini

Pertumbuhan energi terbarukan di Asia juga turut mengurangi pembangkit listrik berbahan bakar fosil secara global tahun lalu

LONDON, RESOURCESASIA.ID – Dipicu oleh lonjakan rekor pada pembangkit listrik tenaga surya, penggunaan energi terbarukan di Asia tahun lalu mendorong penurunan tahunan terbesar pembangkit listrik berbahan bakar fosil di kawasan ini pada abad ini. Menurut laporan terbaru dari lembaga pemikir (think tank) energi global EMBER, peningkatan pembangkit listrik tenaga angin dan surya memenuhi hampir seluruh pertumbuhan permintaan listrik di Asia, mencapai 94%. Digabung dengan sumber energi terbarukan lainnya, pertumbuhan listrik bersih bahkan melampaui kenaikan permintaan listrik di Asia sepanjang tahun 2025.

Pembangkit listrik berbahan bakar fosil turun sebesar 0,9%. Penurunan ini juga terjadi di beberapa negara Asia, termasuk Tiongkok dan India, meskipun permintaan listrik di negara-negara tersebut terus meningkat.

Di tingkat global, tenaga surya dan angin memenuhi 99% pertumbuhan permintaan listrik. Pertumbuhan gabungan semua sumber pembangkit listrik bersih ini turut mendorong penurunan pembangkit listrik berbahan bakar fosil sebesar 0,2%.

Asia menjadi pendorong utama tren ini. Penurunan pembangkit listrik berbahan bakar fosil di Tiongkok (-56 TWh, -0,9%) dan India (-52 TWh, -3,3%) membantu mengimbangi kenaikan kecil di AS, UE, dan di kawasan-kawasan lainnya. 2025 juga pertama kalinya pada abad ini pembangkit listrik berbahan bakar fosil menurun secara bersamaan di Tiongkok dan India.

Pada 2025, tenaga angin dan surya menyumbang 17% dari total pembangkitan listrik di Asia, sejalan dengan rata-rata global (17%).

Tenaga surya menjadi pendorong utama transisi listrik bersih

Lonjakan tenaga surya yang mencetak rekor menjadi pendorong utama pertumbuhan listrik bersih, baik secara di Asia maupun di seluruh dunia. Secara global, pembangkit listrik tenaga surya meningkat 30% pada 2025, yang merupakan laju pertumbuhan tercepat dalam delapan tahun terakhir. Di Asia, pertumbuhannya bahkan lebih tinggi, mencapai 36%, yang merupakan laju tahunan tercepat sejak 2018.

Secara keseluruhan, Asia menyumbang dua-pertiga dari peningkatan pembangkit tenaga surya global pada 2025. Tiongkok sendiri berkontribusi lebih dari setengah (53%) pertumbuhan global, sementara India menyumbang 8%.

Di Asia, pembangkit listrik tenaga surya menghasilkan 1.623 TWh atau 10% dari total listrik pada 2025, dengan besar produksi hampir empat kali lipat sejak 2020. Pada tahun tersebut, negara dengan pangsa tenaga surya tertinggi adalah Pakistan (19%) dan Sri Lanka (16%).

Pakistan juga merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan tenaga surya tercepat di Asia. Listrik tenaga surya meningkat 84% pada 2025 hingga mencapai rekor 37 TWh. Pakistan kini menjadi produsen tenaga surya terbesar ke-12 di dunia, naik lima peringkat dari 2024, dan melampaui negara seperti Prancis dan Belanda.

Thailand juga mencatat pertumbuhan pesat. Pembangkit listrik tenaga surya meningkat 72% pada 2025 menjadi 9 TWh, melampaui Portugal dan Swiss. Tenaga surya kini menyumbang 5% dari bauran listrik Thailand.

“Tenaga surya adalah pendorong utama perubahan sistem kelistrikan global,” kata Aditya Lolla, Direktur Eksekutif Ember. “Jika digabung dengan penyimpanan baterai, tenaga surya membuka jalan menuju listrik bersih yang dapat berkembang pesat dan tersedia sepanjang waktu. Asia memimpin dalam penambahan kapasitas tenaga surya. Empat dari sepuluh produsen tenaga surya terbesar di dunia, yaitu China, India, Jepang, dan Korea Selatan, berada di Asia. Negara-negara Asia lainnya juga berkembang pesat.”

Tinjauan Listrik Global (Global Electricity Review) ke-7 dari Ember memberikan gambaran komprehensif pertama mengenai sistem tenaga listrik global pada 2025 berdasarkan data tingkat negara. Laporan ini diterbitkan bersama kumpulan data terbuka yang mencakup 91 negara dan mewakili 93% permintaan listrik global, serta data historis dari 215 negara.

Pertumbuhan energi bersih menekan pembangkit listrik berbahan bakar fosil

Pembangkit listrik bersih di Asia tumbuh sebesar 718 TWh pada tahun 2025, cukup untuk memenuhi pertumbuhan permintaan sebesar 618 TWh. Berkat hal itu, pembangkit listrik berbahan bakar fosil menurun sebesar 0,9%, dan menjadikan 2025 sebagai tahun ketiga sepanjang abad ini di mana tidak terjadi pertumbuhan pembangkit listrik berbahan bakar fosil di seluruh Asia.

Pertumbuhan pesat tenaga surya dan energi terbarukan di Tiongkok dan India menjadi pendorong terbesar tren penurunan pembangkit listrik berbahan bakar fosil di seluruh Asia. Bahkan di ASEAN, di mana tenaga surya dan angin masih rendah (pangsa 5% dari bauran listrik), pembangkit listrik berbahan bakar fosil tetap turun (-0,2%) seiring dengan kenaikan pembangkit listrik terbarukan secara keseluruhan (+5,5%). Angka-angka ini masih bersifat sementara, karena data resmi tahun 2025 untuk Indonesia, sektor listrik terbesar di ASEAN, belum tersedia secara publik. Pembangkit listrik tenaga air pada 2025 (239 TWh) menjadi kontributor terbesar terhadap pembangkit listrik energi terbarukan di ASEAN (369 TWh).

“Transisi listrik di Asia terus berlanjut dengan penurunan pembangkit energi fosil di seluruh kawasan,” kata Dr. Dinita Setyawati, Analis Energi Senior EMBER untuk Asia.

“Meskipun pertumbuhan permintaan yang melambat turut berperan, pembangkit energi terbarukan terus meningkat. Ke depan, investasi untuk memperkuat infrastruktur jaringan agar mampu menampung energi terbarukan yang lebih bervariasi dalam sistem, serta interkonektor dan penyimpanan untuk memanfaatkan sumber daya terbarukan secara optimal, akan sangat penting untuk terus mempercepat transisi ini.” (RA)

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Pertamina SMEXPO Kartini, Komitmen Pertamina Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – PT Pertamina (Persero) menggelar Small Medium Enterprise Expo (SMEXPO) Kartini di Lobby …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *