Monday , 15 June 2026
Home / LINGKUNGAN / Harga Biji Kopi di Indonesia Naik 15% Akibat Krisis Iklim

Harga Biji Kopi di Indonesia Naik 15% Akibat Krisis Iklim

JAKARATA, RESOURCESASIA.ID – Krisis iklim ternyata juga berdampak pada kopi yang biasa kita minum setiap hari. Gelombang panas akibat memburuknya krisis iklim memangkas produksi dan menaikkan harga biji kopi. Secara global, harga kopi melonjak 45,89% dari US$2,63/kg (Rp44.239/kg) pada 2023 menjadi US$4,86/kg (Rp81.751/kg) pada 2025. Sementara di Indonesia, harga biji kopi robusta di Indonesia naik sebesar 15%.

Analisis Climate Central yang berjudul “More Coffee-Harming Heat Due to Carbon Pollution” mengungkapkan, krisis iklim menambahkan 57 hari gelombang panas di lima negara pemasok kopi terbesar, yakni Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia dan Indonesia, yang telah menyumbang 75% suplai secara global. Gelombang panas ini berdampak pada kesehatan dan pertumbuhan tanaman kopi.

“Hampir setiap negara penghasil kopi utama kini mengalami lebih banyak hari dengan suhu panas ekstrem yang dapat merusak tanaman kopi, mengurangi hasil panen, dan memengaruhi kualitas. Seiring waktu, dampak ini dapat menyebar dari perkebunan ke konsumen, hingga memengaruhi kualitas dan biaya kopi yang diminum setiap hari,” kata Kristina Dahl, Wakil Presiden Sains Climate Central.

Indonesia berkontribusi sebesar 6% dalam memberikan suplai kopi secara internasional. Tetapi pada tahun 2025, terdapat rata-rata 129 hari dengan suhu panas yang merusak tanaman kopi, dengan tambahan 73 hari akibat perubahan iklim. Kondisi ini mengganggu produksi kopi sehingga terjadi inflasi harga 15%.

Kopi membutuhkan kondisi yang sangat spesifik untuk tumbuh optimal. Sebagian besar berasal kopi dari daerah yang dikenal sebagai “sabuk kopi”, yakni wilayah geografis di sekitar Garis Khatulistiwa yang memiliki iklim tropis ideal dengan suhu stabil di bawah 30°C dan curah hujan tinggi. Krisis iklim yang semakin parah mengancam jumlah lahan yang layak dijadikan pertanian kopi, yang diproyeksikan berkurang hingga 50% pada 2050 jika tidak ada adaptasi yang memadai.

Ketika suhu naik di atas ambang batas 30°C, tanaman kopi seperti robusta dan arabika akan mengalami stres panas yang dapat mengurangi hasil panen, mempengaruhi kualitas biji kopi, dan meningkatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit. Secara bersamaan, dampak-dampak ini dapat mengurangi pasokan dan kualitas kopi serta berkontribusi pada kenaikan harga secara global, terutama kopi arabika yang lebih sensitif pada kenaikan suhu daripada robusta.

Kondisi ini paling berdampak buruk bagi petani kecil yang mencakup sekitar 80% produsen global dan berkontribusi sekitar 60% pasokan kopi dunia. Namun, petani kecil hanya menerima 0,36% dari pendanaan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim pada 2021, yakni US$2,19 per hari untuk satu hektar, kurang dari harga secangkir kopi di banyak negara. Petani kecil biasanya menggarap lahan kurang dari sekitar 12 hektar.

Menurut Yosi Amelia, Lead Program Iklim dan Ekosistem MADANI Berkelanjutan, pendekatan agroforestri bisa menjaga stabilitas ekologi kebun dalam konteks perubahan iklim. Sistem kopi dengan pohon naungan mampu menciptakan iklim mikro yang lebih stabil, menjaga kelembaban tanah, serta mengurangi dampak suhu ekstrem dan variabilitas curah hujan. Agroforestri berfungsi sebagai mekanisme adaptasi produksi yang memperkuat ketahanan tanaman sekaligus menjaga keanekaragaman hayati dan penyimpanan karbon.

“Tantangan terbesar justru terletak pada tata kelola perkebunan kopi. Sebagian besar kopi Indonesia diproduksi oleh petani kecil dengan akses terbatas terhadap penyuluhan, pembiayaan, informasi iklim, dan pasar yang adil. Tanpa sistem tata kelola yang kuat, upaya adaptasi akan berjalan sporadis dan sulit mencapai skala yang dibutuhkan,” Yosi menegaskan. (Rama Julian Saputra)

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Komut Pertamina Tinjau Kesiapan Pasokan Avtur di Bali Jelang Peningkatan Trafik Penerbangan

DENPASAR, RESOURCESASIA.ID – Menjelang meningkatnya aktivitas penerbangan pada periode liburan pertengahan tahun, Komisaris Utama PT …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *