Wednesday , 22 April 2026
Home / ENERGI MINYAK & GAS / Keren ni! Miniatur Kayu Tematik Hulu Migas dari Limbah Kayu Jati Jadi Incaran Industri Migas Mancanegara

Keren ni! Miniatur Kayu Tematik Hulu Migas dari Limbah Kayu Jati Jadi Incaran Industri Migas Mancanegara

RESOURCESASIA.ID. JAKARTA – Ada yang menarik pada perhelatan IPA Convention and Exhibition (Convex) 2024 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten yang diadakan pada 14-16 Mei 2024. Dalam pameran industri hulu minyak dan gas bumi (migas) tanah air ini ternyata juga menampilkan kreasi kayu berbentuk miniatur yang persis menyerupai kapal Floating Storage Production and Offloading (FPSO) sampai anjungan lepas pantai lengkap dengan rignya.

Limbah kayu biasanya hanya dimanfaatkan menjadi kayu bakar. Tapi tidak dengan limbah kayu jati di tangan Slamet Sukrisno (30). Bagi pria asal Desa Gebyar, Kel. Crewek, Kec. Kradenan Kabupaten Grobogan Jawa Tengah ini di tangannya limbah kayu jati bisa menjadi barang sangat berharga. Slamet memanfaatkannya sebagai bahan untuk membuat miniatur berbagai struktur yang bernilai seni tinggi.

Slamet Sutrisno, awalnya seorang tukang kayu, mulai membuat miniatur dari serpihan kayu pada tahun 2017. Kesuksesannya pertama kali datang dengan miniatur masjid, berkembang menjadi karya-karya yang lebih besar. Bukti dari keterampilan dan kreativitas Slamet Sutrisno, telah terwujud berbagai macam miniatur seni dan replika, mulai dari kapal pengeboran dan rig lepas pantai hingga platform WHP, mesin berat, kapal tangki, kapal, kapal pesiar, bahkan bangunan-bangunan bersejarah

Dari awalnya hanya membuat miniatur masjid dan dihargai sebesar Rp 150 ribu, kini Slamet menjadi perajin miniatur industri migas yang nilai satu produk minitaturnya ada yang dihargai hampir  Rp 100 juta. Tak hanya itu pelanggannya pun hampir semuanya perusahaan asing yang ada di luar negeri.

“Total produk miniatur kami sudah dikirim ke sekitar 24 negara,” kata Slamet, saat ditemui di sela-sela IPA Convention & Exhibtion 2024 di ICE BSD, Tangsel, Provinsi Banten, Rabu (15/5).

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v80), quality = 82

Slamet memajangkan beberapa hasil karyanya di booth milik PT Swa Mukti Persada, sebuah perusahan jasa industri migas terintegrasi. Hasil karyanya yang dipajang antara lain miniatur kapal pengeboran West Capell, rig Blue Whale 1 serta Jack Up rig yang 100 persen bahannya dari limbah kayu jati.

Sementara itu, PT Swa Mukti Persada merupakan perusahaan yang membina UMKM milik Slamet dalam mengembangkan usahanya yang dilabeli dengan Markas Miniatur Jati.

Saat ini Slamet menerima pesanan pembuatan miniatur terkait industri migas yakni kapal pengeboran dan berbagai macam rig. Hampir semua pesanan saat ini justru mayoritas dari perusahaan-perusahaan migas yang ada di luar negeri. “Saat ini ada sekitar sembilan pesanan yang sedang kami kerjakan,” kata dia.

Slamet mengakui, keahlian membuat miniatur didapatnya secara otodidak. Setelah luslus SMP, karena kondisi ekonomi, mengingat orangtuanya hanya petani, Slamet harus menguburkan impiannya untuk melanjutkan sekolah ke SMA. Slamet pun akhirnya memutuskan untuk kerja serabutan dan salah satunya bekerja menjadi tukang serut kayu.

“Latar belakang saya lebih ke tukang kayu, memang dari kecil saya suka hal-hal yang berkaitan dengan kayu. Mungkin saya awalnya hobi dan saya beranggapan sesuatu yang dicintai itu akan indahlah jadinya,” kata dia.

Saat bekerja sebagai tukang serut kayu itu lah Slamet mulai belajar. Sepulang kerja Slamet selalu membawa limbah atau sisa kayu yang tidak terpakai. Setelah diolah dengan peralatan seadanya, Slamet mampu menjadikan limbah itu miniatur sebuah mesjid yang dikerjakannya dalam empat malam.

“Karya saya pertama itu ternyata ada yang mau beli dan dihargai Rp 150 ribu,” kata dia.

Slamet akhirnya semakin semangat untuk membuat lagi, hingga mampu memproduksi lima unit lagi dan laku semua.

Slamet sempat merantau ke Jakarta dan saat menikahi gadis asal Cianjur, Jawa Barat, Slamet memutuskan untuk tinggal di kampung halamannya. Untuk menyambung hidup Slamet mencoba menekuni kembali keahliannya membuat miniatur dari limbah kayu dan memasarkan lewat media sosial dan dari mulut ke mulut.

Jalan terbuka lebar saat Slamet untuk pertama kalinya mendapatkan pesanan dari customer yang berasal dari India, berupa kapal pengeboran. Hasil karya Slamet ternyata diposting oleh customer tersebut di media sosial LinkedIn. Kabar itu sampailah ke Slamet. Slamet yang tidak tahu tentang LinkedIn akhirnya membuka akun di LinkedIn, karena selama ini dia hanya menggunakan medsos facebook dan Instagram untuk memasarkan produk-produk miniaturnya.

“Setelah saya mempunyai akun LinkedIn, dalam seminggu follower saya mencapai 500 an dan saat ini sudah hampir 10 ribu follower, nah customer luar negeri yang memesan itu melalu LinkedIn sampai sekarang,” kata dia.

Pada 2019 setelah menjalani usaha selama dua tahun, Slamet mulai berani merekrut tetangganya. Tiap pesanan biasanya diselesaikan dalam waktu rata-rata dua minggu. “Kalau sendiri mengerjakan bisa sampai satu bulan,” kata Slamet.

Kini Slamet memiliki empat karyawan untuk membantunya yang dibayar sekitar 100 ribu hingga 150 ribu per orang setiap hari

Satu pesanan miniatur saat ini kata Slamet paling rendah tarifnya sebesar Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Namun untuk pesanan dengan kerumitan yang tinggi bisa dibandrol sekitar 6000 dolar atau sekitar Rp 90 juta. “Dikerjakan rata-rata selama dua pekan dengan bantuan sekitar 4 pekerja yang saya rekrut dari tetangga,” kata dia.

Usaha Slamet semakin dikenal setelah mendapatkan pendampingan dari PT Swa Multi Persada. Berawal dari PT Swa yang melakukan pemesanan kepada Slamet dan terjalinlah hubungan baik antara Slamet dan PT Swa. Setelah mengetahui kendala Slamet dalam memasarkan bisnisnya, akhirnya pihak PT Swa melakukan pendampingan sebagai bagian dari program CSR perusahaan untuk lebih memajukan usaha Slamet.

Bantuan dari PT Swa diberikan dalam bentuk modal kerja serta bantuan promosi dalam mengenalkan produk Slamet. “Untuk promosi ini kan butuh mdoal besar juga, dengan bantuan PT Swa pokoknya saya  tinggal berangkat, difasilitasi secara gratis, termasuk pertama kali mengikuti pameran  di IPA ini,” kata Slamet.

Ke depannya, bersama dengan PT Swa, impian Slamet adalah bisa mengikuti pameran di luar negeri. Slamet pun berharap usahanya bisa semakin berkembang dan berjalan lebih baik lagi sehingga bisa banyak menambah pasar di internasional dan juga dalam negeri. “Kalau semakin banyak pesanan, saya bisa semakin banyak nambah tenaga kerja,” kata dia.

Sementara untuk pasokan kayu, kata dia sejauh ini tidak ada kendala mengingat di derahnya banyak limbah kayu jati  yang bisa dimanfaatkan.

Saat ini sejumlah negara telah menjadi tujuan produk miniatur Slamet. Negara-negara tersebut diantaranya Brunei, Malaysia, Singapura, Thailand, China, Pakistan, India, Uni Emirat Arab, Kuwait, Arab Saudi, Irak, Inggris, Jerman, Belanda, Rusia, Lituania, dan Amerika Serikat serta sejumah negara lainnya.

“Paling sering kirim ke Dubai, Belanda, Amerika dan bidang migas itu hampir 98 persen itu miniatur industri migas,” papar Slamet.

Sementara itu Dionysius Irwanto, Komisaris PT Swa Multi Persada, beharap CSR program pendampingan UMKM milik Slamet bisa membantu Slamet agar karyanya dapat dikenal lebih luas lagi dalam industri migas Indonesia.

Dionysius mengaku sangat terenyuh untuk membantu Slamet yang ditemuinya 4 tahun lalu. “Produk UMKM Pak Slamet ini sudah terkenal di luar negeri, sementara di Indonesia peminatnya masih sedikit jadi kita bantu untuk promosikan,” kata Dionysius.

Dionysius mengakui bahwa UMKM sejenis ini sebetulnya banyak, terutama yang menggunakan bahan plastik dan metal, seperti kuningan. “Tapi yang fokus ke miniatur untuk industri migas hanya Pak Salmet,” kata Dionysius . Dia pun berharap produk Slamet bisa semakin dikenal di kalangan industri migas nasional. (Rama Julian)

Foto: Dok IST

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada yang menarik pada perhelatan IPA Convention and Exhibition (Convex) 2024 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten yang diadakan pada 14-16 Mei 2024. Dalam pameran industri hulu minyak dan gas bumi (migas) tanah air ini ternyata juga menampilkan kreasi kayu berbentuk miniatur yang persis menyerupai kapal Floating Storage Production and Offloading (FPSO) sampai anjungan lepas pantai lengkap dengan rignya.

Adalah Slamet Sutrisno, warga Grobogan, Jawa Tengah, pengrajin kayu serta Owner dari Markas Miniatur Jati yang punya keahlian mengolah kayu jati menjadi miniatur kerajinan kayu nan unik dan epik tersebut. Slamet yang kelahiran 7 Desember 1994 menyebut dirinya tukang kayu dan sudah akrab dengan kayu sejak kecil. Dirinya terpaksa jadi tukang kayu dan kerja serabutan karena orangtuanya terkendala biaya untuk sekolahnya. Bangku SMA tak tuntas didudukinya.

“Dulu memang tukang kayu bikin rumah, belajar di situ dan sesuai dengan hobi saya. Sepulang kerja saya membawa limbah sisanya, saya coba rakit-rakit, kok bagus ya,” cerita Slamet kepada OG Indonesia, Rabu (15/5/2024) di booth Swa Multi Persada (Swa Mp) yang turut menyokong kegiatan kreatif dari Slamet dengan Markas Miniatur Jatinya.

Kreasi perdananya dimulai tahun 2017 dengan membuat miniatur kayu berbentuk masjid. Kala itu Slamet bisa membuatnya dalam tempo empat malam saja dan berhasil terjual Rp150.000. “Oh ternyata laku dari kegiatan iseng-iseng,” cerita Slamet.

Dari iseng menjadi ditekuni. Slamet terpancing untuk membuat miniatur kerajinan kayu lagi walaupun peralatan masih seadanya. Hasilnya lumayan, lambat laun banyak permintaan berdatangan, seperti dari instansi TNI dan Polri yang memintanya membuat beberapa miniatur, salah satunya miniatur kapal selam Nenggala.

Dari mulut ke mulut dan lewat jejaring media sosial, kreativitas Slamet kian tersohor. Apalagi di LinkedIn pengikutnya sudah lebih dari 10.000 orang yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Slamet mengungkapkan LinkedIn menjadi pintu masuk bagi dirinya mendapatkan order yang jauh lebih banyak.

“Awalnya ide dari seorang customer dari India. Dia pesan lalu saya kirim barangnya, ternyata mereka posting di LinkedIn. Akhirnya setelah itu saya mempunyai LinkedIn juga, belum ada seminggu follower saya sudah lebih dari 500 orang, akhirnya banyak yang pesan-pesan sampai sekarang,” tuturnya.

Dia menerangkan, pesanan dari LinkedIn ternyata banyak yang berasal dari perusahaan migas mancanegara yang ingin dibuatkan miniatur kayu berupa anjungan lepas pantai dan rig yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. “Satu pesanan harganya bisa Rp20-30 juta, kalau pesan dua berarti bisa Rp60 juta,” ungkap Slamet. Untuk urusan ongkos kreatif, Slamet berpatokan pada tingkat kerumitan dalam pembuatannya. “Paling mahal ada yang hampir Rp100 juta,” jelasnya.

Semakin banyaknya pesanan membuat Slamet membutuhkan tenaga kerja tambahan. Mulai tahun 2019 hingga kini dirinya dibantu oleh empat orang pekerja dalam kegiatan kerajinan kayunya tersebut. Setiap bulannya, Markas Miniatur Jati bisa membuat kreasi miniatur kayu sekitar 3-4 unit. “Kebanyakan yang kecil-kecil, tetapi yang besar juga ada. Yang paling besar itu pernah kami buat panjangnya 1 meter, itu miniatur FPSO pesanan dari Petrobras Brazil,” jelasnya.

Terhitung, sudah ada permintaan dari 24 negara untuk minatur kayu kreasi Slamet dan teman-teman. “Paling sering saya kirim ke Dubai (Uni Emirat Arab), Amerika Serikat, Belanda, sampai Irak,” bebernya. Untuk pesanan miniatur yang paling laris, menurut Slamet adalah miniatur yang terkait bidang migas. “Itu hampir 98 persen pesanannya, berupa onshore rig, offshore rig, sampai miniatur kapal,” tambahnya.

Slamet menceritakan untuk membuat miniatur yang sama persis seperti bentuk aslinya sebenarnya tidak terlalu banyak kendalanya. “Kesulitan paling ketika ada konsumen yang mengirimkan gambar blue print yang tidak detail ukurannya. Jadi kalau ada permintaan itu harus detail,” jelasnya.

Untuk bahan baku kayu, Slamet tidak main-main. Kreasi kayunya memakai kayu jati bekas yang justru semakin tua semakin bagus kualitasnya. “Suplai kayu jati di Grobogan itu banyak, memanfaatkan bekas rumah-rumah zaman dulu yang habis dibongkar, kusennya saya ambil sisa-sisanya,” ucap Slamet.

Slamet mengaku dari pendapatan berkreasi miniatur kayu, dirinya bisa membangun rumah sendiri sampai membeli hewan ternak dan sawah. Dia pun berharap, ke depannya kegiatan usaha miniatur kayunya bisa terus eksis sehingga dapat terus menafkahi keluarganya serta keluarga dari para pekerja yang direkrutnya.

“Saya sih inginnya membuka lapangan kerja yang sebanyak-banyaknya. Kalau bisa banyak merambah pasar internasional, dengan semakin banyak pesanan harapannya saya bisa semakin banyak menambah tenaga kerja,” kata Slamet.

Dukungan dari Swa Multi Persada

Kesuksesan kegiatan usaha Markas Minatur Jati, dikisahkan Slamet tidak lepas dari sokongan Swa Multi Persada yang fokus di kegiatan usaha General Services. “Awalnya Swa pesan kapal. Ternyata Swa kok peduli sama profesi saya, mau membantu dan juga sudah banyak kontribusi ke lingkungan kami seperti bangun jembatan dan mushola,” terangnya.

Dibeberkan Slamet, beberapa dukungan dari Swa Mp antara lain membantu modal kegiatan usahanya, membantu promosi, sampai membawa Markas Miniatur Jati ke berbagai pameran, seperti di ajang IPA Convex 2024 sekarang ini.

Dionysius Irianto, Komisaris Swa Multi Persada, mengungkapkan perusahaannya telah mendukung kegiatan usaha Markas Miniatur Jati sejak empat tahun lalu lewat program CSR perusahaan. “Waktu itu Pak Slamet ini kesulitan, padahal miniatur kayu ini sudah terkenal di luar negeri khususnya yang terkait oil and gas. Jadi kita bantu secara pemodalan dan pemasaran,” kata Dionysius.

Swa Mp berharap kerajinan miniatur kayu migas karya Slamet dan rekan-rekan juga bisa dilirik oleh perusahaan-perusahaan nasional yang ternyata saat ini masih kurang permintaannya, padahal di luar negeri miniatur kayu ini banyak yang mencari.

Hal senada juga disampaikan Slamet yang mengatakan peminat miniatur kayu kreasinya dari perusahaan lokal masih sangat minim. “Baru ada Saipem pada tahun ini. Harapan saya dengan perusahaan luar negeri saja bisa menghargai, perusahaan lokal juga bisa tertarik dengan miniatur kayu ini,” tutup Slamet.

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Pertamina SMEXPO Kartini, Komitmen Pertamina Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – PT Pertamina (Persero) menggelar Small Medium Enterprise Expo (SMEXPO) Kartini di Lobby …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *