Friday , 6 December 2019
Home / ENERGI MINYAK & GAS / SKK Migas Target Produksi 1 Juta Barrel Minyak Pada 2030

SKK Migas Target Produksi 1 Juta Barrel Minyak Pada 2030

Resourcesasia.id – Yogyakarta, Empat asosiasi yang bergelut di bidang Energi mendorong eksplorasi masif dan pengembangan sumber daya energi yang belum dikembangkan. “Harapannya, Indonesia mampu mewujudkan ketahanan energi Nasional,” kata Abdullah Nurhasan, Ketua Panitia Joint Convention Yogyakarta 2019 (JCY 2019) dalam sambutan pembukaan di Yogyakarta, Selasa (26/11).

JCY 2019 merupakan konferensi gabungan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi Indonesia (IAFMI), dan Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI). Hadir dalam pembukaan konferensi, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, Dwi Soetjipto, Asisten Sekretaris Daerah DIY Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Tri Saktiyana, dan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Rudy Suhendar.

Dwi menjelaskan, dalam beberapa tahun kebelakang, capaian produksi dan lifting di Indonesia relatif menurun. Eksplorasi yang masif menjadi salah satu pekerjaan jangka panjang untuk, menjaga atau bahkan meningkatkan produksi migas di masa mendatang. Undeveloped Resources pun tidak kalah pentingnya. Sumber daya yang sudah ada, tetapi tidak bisa diproduksikan, sehingga perlu bersama-sama mencari cara untuk memproduksikan potensi yang sudah ada tersebut.

Data per 30 Oktober 2019, Indonesia memproduksikan minyak kurang lebih 748 ribu barel minyak per hari dan 7,2 miliar standar kaki kubik gas per hari. Jumlah ini menggambarkan penurunan kurang lebih 5 persen dibandingkan dengan tahun lalu. “SKK Migas berkomitmen menjadi tingkat penurunan di bawah 5 persen,” katanya. Oleh karena itu, Indonesia memerlukan rencana jangka panjang, yakni menjaga produksi yang ada sekarang, merubah resources menjadi reserves, enhanced oil recovery (EOR), dan eksplorasi yang masif.

Dari seluruh Wilayah Kerja Aktif berjumlah lebih dari 200 WK yang ada di Indonesia, masih banyak titik yang sudah ada potensi migas yang belum dapat diproduksikan. Penyebabnya antara lain daerah yang terlalu frontier, hingga fasilitas yang kurang memadai dengan potensi yang tidak terlalu besar, sehingga keekonomiannya tidak memadai untuk investor melakukan pengembangan di daerah tersebut. “Saya berharap acara ini dapat membantu mencari solusi untuk mengembangkan daerah berpotensi dengan lebih efektif dan efisien,” kata Dwi.

Rudy mengatakan Indonesia memiliki 128 cekungan migas. Dari jumlah tersebut baru 54 cekungan yang berproduksi. Sisanya, 74 cekungan belum dieksplorasi. Tantangan yang dihadapi antara lain eksplorasi di wilayah Timur yang tergolong frontier dan area laut dalam/deep water. Fokus area ini menantang, karena tidak hanya membutuhkan ilmu yang tepat untuk dapat melakukan operasional secara efektif dan efisien, tetapi juga membutuhkan dukungan dana yang tidak sedikit. “Risiko yang dihadapi juga tinggi,” katanya.

Dia mengatakan, eksplorasi masif menjadi keharusan mengingat konsumsi minyak bumi di Indonesia semakin meningkat. Saat ini jumlahnya berkisar 1,4-1,6 juta barel per hari. “Ratusan ribu barel minyak harus dipenuhi dari impor setiap harinya,” kata dia.

Kondisi ini, berdampak pada ketahanan energi nasional. Apalagi, mengingat 80 persen produksi migas Indonesia berasal dari lapangan mature yang sudah puluhan tahun berproduksi. “Eksplorasi jadi kunci jika tidak ingin produksi migas terus terus,” katanya.

Kementerian ESDM, kata dia, berharap JCY 2019 dapat menjadi wadah yang membuka wawasan untuk dapat menghadapi yang menjadi tantangan eksplorasi kedepannya.

JCY 2019: Konferensi Asosiasi Terbesar
JCY 2019 yang berlangsung selama empat hari di Yogyakarta ini mengangkat tema “Toward Massive Exploration and Maximizing Undeveloped Resources”. Diperkirakan hadir sebanyak 1.000 para ahli Geologi, Geofisika, Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Pertambangan dan Infrastruktur dari Indonesia dan berbagai Negara. JCY 2019 adalah acara terbesar di Indonesia yang ditujukan untuk para ahli geosain dan insinyur untuk bertemu dengan para ahli seprofesi, bertukar ide, menemukan peluang baru dan memperluas pengetahuan.

Dalam JCY 2019 ini akan dipresentasikan 650 makalah teknis yang terdiri atas presentasi oral dan poster, yang terbagi di dalam 9 paralel session. Selain itu, diselenggarakan Panel Diskusi mengenai perkembangan terkini mengenai energi dan sumber daya alam Indonesia baik dari sisi strategi bisnis maupun kebijakan pemerintah, serta pameran dari berbagai perusahaan di industri pertambangan, perminyakan dan industri geosains, fasilitas produksi dan perminyakan lain.

Check Also

KOMITMEN KERJA PASTI JAMBI MERANG, SURVEI SEISMIK 2D TERBESAR SATU DEKADE TERAKHIR

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Kontraktor Kontrak Kerja Sama Pertamina Hulu Energi Jambi Merang (PHE Jambi Merang) …

Leave a Reply