Friday , 3 July 2020
Home / ENERGI MINYAK & GAS / Mempertahankan Premium Membuat Mafia Tumbuh Subur

Mempertahankan Premium Membuat Mafia Tumbuh Subur

Resourcesasia.id, Pontianak – Komisi VII DPR RI mempertanyakan menghilangnya premium di beberapa SPBU dan meminta Pertamina melaporkan secara tertulis daftar SPBU yang tidak menyediakan Premium. Hal itu merupakan hasil Rapat Dengar Pendapat Komisi VII dengan Pertamina, Senin (28/8).

Terkait BBM jenis Premium, Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (RTKM) Faisal Basri pernah menyatakan, mempertahankan BBM premium di pasaran akan membuat mafia tumbuh subur di Indonesia.

“Hal itulah yang menjadi biang keladi bagi kekisruhan negara, soalnya beda harga (pembelian crude oil) serta trader (pedagang minyak) dan mafia untungnya dari situ,” kata Faisal Basri.

Tim RTKM dulu pernah memberikan rekomendasi yang meminta kepada pemerintah untuk menghapus RON 88 alias premium. Rekomendasi tim anti mafia migas meminta agar premium dihapus.

Sebelumnya, Pada masa Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono telah direncanakan pada tahun 2018 mendatang akan menghapus premium atau RON 88 dari pasaran yang akan menggantinya dengan BBM yang berkualitas baik atau beremisi euro 4.

BBM euro 4 kualitasnya lebih bagus, bersih dan ramah lingkungan, sementara, premium kandungan timbalnya tinggi. premium adalah bensin bertimbal, dan apalagi di negara lain nyaris sudah tidak mempergunakan premium lagi.

Sebelumnya, Pengamat Ekonomi dari Untan Pontaianak, Kalbar, Susanto menyatakan, tren peningkatan pemakaian BBM jenis pertalite di Kalbar murni karena kebutuhan konsumen akan kualitas BBM bagi kendaraan bermotor mereka.

“Masyarakat menilai BBM pertalite memang jauh lebih unggul dibandingkan premium, sehingga mereka beralih ke pertalite bukan keterpaksaan, tetapi memang sudah merasakan keunggulan BBM tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan, dari sudut pandang konsumen, pertalite memang sangat menguntungkan, baik dari segi kualitas karena memiliki RON lebih tinggi sehingga menjadikan mesin lebih awet dan terpelihara. Sedangkan dari sisi ekonomis, dengan pembakaran yang lebih sempurna, menjadikan pertalite lebih irit dibandingkan premium.

Hal lain yang tak bisa diabaikan, lanjut Susanto, adalah daya beli masyarakat Kalbar yang masih stabil dan terjaga. Dalam kondisi demikian, pergeseran pemakaian dari premium ke pertalite tidak akan memunculkan gejolak, apalagi karena perbedaan harga kedua BBM yang tidak begitu jauh.

“Dengan perbedaan harga yang relatif kecil, masyarakat memperoleh manfaat yang jauh lebih besar. Manfaat itu tidak terbatas pada tataran pengguna mobil saja, namun juga pengguna sepeda motor, sehingga fenomena itu harus disikapi positif oleh semua pihak, katanya. (Dari berbagai sumber/ antara.com)

Foto: Ist

Check Also

Peran Industri Hulu Migas dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi yang Berkeadilan

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – SKK Migas kembali menyelenggarakan penandatanganan Letter of Agreement (LoA) untuk mengimplementasikan penyesuaian …

Leave a Reply